Selasa, 23 September 2008
Tausyiah
Sosok Kader Dakwah-Dicintai Ummat
Ketika manusia dilahirkan kedunia, secara fitrah sifat cinta manusia seorang ayah dan ibu langsung tertuju kepada bayi yang menangis. Ayah dan ibu tersenyum, tanda bahagia.
Begitu juga ketika sang insan dipanggil Allah menghadap keharibaan Nya, spontan orang2 disekelilingnya, akan menangis, tanda kehilangan orang yg dicintainya.
Dua contoh diatas adalah sebuah kenyataan hidup yang pasti, manusia memiliki rasa cinta. Bahkan fitrah cinta tersebut pun dialami oleh hewan/binatang. Sebagai sebuah kenyataan yang tak dapat dipungkiri, bahwa cinta itu selalu ada.
Sekarang bukan saatnya lagi bagi seorang kader dakwah untuk 'takut' berada di lingkungan baru. Jangan sampai ia berfikir bahwa lingkungan baru akan melarutkan dirinya, padahal dia belum lagi bertarung. Mengukur kapasitas diri sangat penting selama tidak ada perasaan khawatir yang berlebihan. Disinilah sesungguhnya apakah tarbiyah yang dilakukannya sukses atau belum.
Makna Tarbiyah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunnahnya. Sebab kalau mau, para Sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus-menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Mala, tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.
Imam Hasan Al Banna mengatakan Antum ruhun jadidah tasri fi jasadil ummah. Kamu ada ruh baru yang mengalir di tubuh ummat. Dari ungkapan ini sangat jelas bahwa seorang kader dakwah haruslah berada di tengah-tengah ummat. Dia harus menjadi anasir taghyir (unsur perubahan) bahkan menjadi sumbu putar bergeraknya masyarakat.
Untuk bisa dicintai ummat maka harus lah banyak berbuat untuk mereka dan bersabar menghadapi seluruh kondisi yang tidak hanya selalu menyenangkan. Bayangkan ketika kita harus menjadi orang yang benar2 ikhlas, dengan banyak menolong dan memberi. Padahal mungkin tidak selalu yang diberikan pertolongan memberikan timbal balik walau sedikit. Untuk itu seorang kader jangan sampai memberi kebaikan sebatas penghargaan orang lain terhadap dirinya. Bila pemberian dihargai, maka kebaikan diteruskan, bila dicaci maka dia cukupkan.
Kita masih ingat kisah nabiyullah Yunus A.S, yang ditarbiyah oleh Allah Swt atas rasionalisasi dakwah yang dijalaninya. Saat itu pertimbangan Nabi Yunus A.S untuk meninggalkan kaumnya bisa dibenarkan oleh akal sehat. Namun dibalik itu, Allah Swt menginginkan agar kebaikan berupa dakwah itu diberikan tanpa batas, walau makan hati.
Kisah Rasulullah ketika berada di Thaif, dengan segala kesulitan dan kesedihan, beliau bersama Zaid, RA menghadang lemparan batu dan cacian masyarakat Thaif. Saat itu ada tawaran dari Malaikat penjaga bukit untuk menghimpitkan bukit Abu Qubais dan bukit Ahmar kepada mereka. Namun tawaran ini ditolak oleh Rasulullah, bahkan beliau berdoa : Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya'lamuun" (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam). Dengan doa ini anak keturunan masyarakat thaif menjadi generasi rabbani pendukung dakwah nabi dikemudian hari.
Begitu pula seharusnya kader dakwah. Hal yang perlu ditanamkan dalam hati adalah kemenangan itu milik Allah. Oleh karena itu seorang kader dakwah perlu menjadi sosok yang dicintai ummat. Kecintaan itu harus muncul secara alami dengan proses yang berkesinambungan. Kebaikan yang dilakukan pun tidak boleh berpamrih dan berbatas. Tidak ada dalam kamus dakwah, setelah pemilu selesai, kebaikan kita pun selesai. Untuk itu kader dakwah harus terus bekerja dengan niat ikhlas kepada Allah Swt untuk berbuat kebajikan kepada siapa saja tanpa batas.